Banyak petani menganggap jerami yang keluar setelah perontokan sebagai sisa panen yang tidak berguna. Padahal, petani masih bisa mengolah bahan tersebut untuk memperbaiki tanah, mendukung peternakan, dan membuka peluang usaha.
Agar manfaatnya tidak hilang, tangani jerami sejak keluar dari mesin perontok di area panen. Pemilahan, pengeringan, dan penyimpanan yang tepat membantu mencegah penumpukan serta menjaga kualitas bahan.
Pengelolaan Jerami Sisa Proses Perontokan
1. Mengumpulkan Jerami dari Area Perontokan
Mesin perontok memisahkan gabah dari batang dan malai, lalu mengeluarkan jerami melalui saluran khusus. Kumpulkan bahan di atas alas lebar agar tidak bercampur tanah, batu, atau sampah dari sekitar lokasi.
Jika memakai Mesin Power Thresher, perhatikan jalur keluaran jerami dan siapkan tempat penampungan yang cukup. Setelah mesin berhenti sepenuhnya, kumpulkan juga sisa jerami yang tercecer di sekitar alat.
2. Memilah Jerami Berdasarkan Kondisinya
Pisahkan jerami bersih dari tumpukan yang mengandung lumpur, plastik, atau benda asing lainnya. Petani dapat mengarahkan bahan berkualitas baik untuk pakan ternak, mulsa, kompos, atau media budidaya.
Periksa kelembapan, warna, dan aroma jerami sebelum menentukan penggunaannya. Jangan simpan atau berikan kepada ternak bahan yang berjamur maupun mengeluarkan bau busuk.
3. Mengeringkan dan Menyimpan Jerami
Hamparkan jerami di tempat terbuka yang memiliki sirkulasi udara baik, lalu balik tumpukan agar kering merata. Pengeringan membantu mengurangi kelembapan yang dapat memicu pertumbuhan jamur selama penyimpanan.
Setelah cukup kering, ikat atau susun jerami di tempat yang melindunginya dari hujan dan kontak langsung dengan tanah. Beri jarak antartumpukan supaya udara tetap mengalir dan petani mudah memeriksa kondisi bahan.
4. Mengolah Jerami Menjadi Kompos
Cacah jerami agar ukurannya lebih kecil dan proses penguraian berlangsung lebih mudah. Campurkan dengan sumber nitrogen seperti pupuk kandang, kemudian atur kelembapan tumpukan agar mikroorganisme dapat bekerja.
Balik bahan secara berkala dan pantau suhu selama proses pengomposan berlangsung. Kompos matang umumnya berwarna gelap, tidak terasa panas, serta tidak mengeluarkan bau menyengat.
5. Memanfaatkan Jerami sebagai Mulsa
Sebarkan jerami kering di permukaan tanah sekitar tanaman sebagai lapisan penutup. Mulsa membantu menjaga kelembapan, mengurangi percikan tanah, dan menekan pertumbuhan gulma di sekitar tanaman.
Namun, jangan menutup pangkal batang terlalu rapat karena kelembapan berlebih dapat memicu gangguan tanaman. Sisakan ruang di sekitar batang dan periksa lapisan jerami setelah hujan atau penyiraman.
6. Mengolah Jerami untuk Pakan Ternak
Jerami padi dapat menjadi sumber serat bagi ternak ruminansia seperti sapi, kambing, dan domba. Namun, kandungan protein serta nilai nutrisinya relatif rendah sehingga peternak perlu memadukannya dengan sumber pakan lain.
Peternak dapat mencacah atau memfermentasi jerami sesuai panduan ahli pakan dan petunjuk teknis. Hindari jerami berjamur atau terkena bahan pencemar agar kualitas pakan dan kesehatan ternak tetap terjaga.
7. Menggunakan Jerami sebagai Media Budidaya
Jerami bersih dapat menjadi bahan media budidaya jamur merang setelah melalui persiapan yang sesuai. Petani dapat mencacah dan membasahi bahan, lalu mengatur prosesnya mengikuti kebutuhan budidaya jamur.
Peternak juga bisa memakai jerami kering sebagai alas kandang setelah memeriksa kebersihannya. Ganti alas secara berkala, kemudian arahkan bahan bekas ke pengomposan setelah bercampur kotoran ternak.
8. Menghindari Pembakaran Terbuka
Pembakaran jerami dapat menghilangkan sebagian bahan organik dan menghasilkan asap yang mengganggu lingkungan. Karena itu, manfaatkan kembali jerami sebagai kompos, mulsa, atau pakan setelah petani mengolahnya dengan benar.
Jika jumlah jerami berlebih, petani dapat bekerja sama dengan peternak, pembudidaya jamur, atau kelompok pembuat kompos. Kerja sama tersebut membantu menyalurkan sisa panen kepada pihak yang membutuhkan sekaligus mengurangi penumpukan.
Kesimpulan
Petani mengelola jerami sisa proses perontokan dengan mengumpulkan, memilah, mengeringkan, lalu memilih pemanfaatan sesuai kondisi bahan. Petani dapat mengolahnya menjadi kompos, mulsa, pakan ternak, media budidaya, atau alas kandang.
Penanganan yang tepat mengubah sisa panen menjadi sumber daya bagi kegiatan pertanian berikutnya. Kunjungi Rumah Mesin untuk mencari informasi peralatan yang mendukung kegiatan pascapanen.
